Peristiwa seperti itu terjadi bukan sekali atau dua kali. Hampir setiap ada kesempatan. Aku dan Sita sering jalan bareng untuk melakukan hal-hal yang biasa, seperti jalan ke perpustakaan, ke toko buku, ke kantin dan lainnya. Sehingga hal itu tampak seperti direncanakan. Padahal nggak ada niatan sama sekali untuk jalan bareng. Ya, huma kebetulan saja.

BINAR CINTA SITA

Oleh Muhamad Jaeni

“Den, tunggu. Kamu mau kemana?” suara sopran seorang cewek memanggil namaku. Aku tergerak untuk melihat sosok itu.

“Den, buru-buru amat.” Lagi suara itu membuatku penasaran untuk cepat-cepat menemukan sosoknya.

“Hey, aku di sini.”

Seketika itu juga aku terkejut. Dia datang tanpa jejak suara kaki dan secara tiba-tiba. Padahal aku belum sempat menengok ataupun meneliti dengan mataku ini.

Hampir saja jantungku copot.

“Eh, kamu. Ada apa Sit?”

“Nggak. Kamu mau kemana?”

“Aku mau, pulang sebentar. Bosen, di kampus terus.”

“Kok, buru-buru sih. Anterin aku ke perpustakaan kampus yuk!” ajaknya membuatku sedikit tertunda untuk pulang ke rumah. Padahal, di pikiranku berjuta permsalahan tergambar dan ingin lekas aku tuntaskan dalam dekapan kasur yang empuk.

“Mau apa di perpus?”

“Nggak sih. Sita cuma mau ngembaliin buku nih, sekalian mau pinjam lagi.”

“Oh, gitu ya,” jawabku singkat.

Tanpa basa-basi Sita gadis cantik berkecamata itu, menggadeng tanganku  membawanya ke perpustakaan kampus. Aku seperti kerbau yang di cocok hidung. Tak bisa berbuat apa-apa.

“Kamu kenapa sih, kok kaku banget.” Tanya Sita sesaat sudah berada di perpustakaan. Aku tak lekas menjawab. Aku hanya tersenyum saja. Melihat tingkah energik temanku yang cantik ini.

“Nggak, emang kenapa? Nggak boleh?”

“Bukan begitu. Cuma…,sebel aja lihat orang cemberuuut saja.”

Raut muka Sita berubah. Ia memalingkan mukanya dari hadapanku dan langsung menuju tempat peminjaman buku. Aku lagi-lagi hanya bisa diam saja. Melihat tingkah manja Sita. Sepertinya dia ngambek lagi?

* * *

Peristiwa seperti itu terjadi bukan sekali atau dua kali. Hampir setiap ada kesempatan. Aku dan Sita sering jalan bareng untuk melakukan hal-hal yang biasa, seperti jalan ke perpustakaan, ke toko buku, ke kantin dan lainnya. Sehingga hal itu tampak seperti direncanakan. Padahal nggak ada niatan sama sekali untuk jalan bareng. Ya, huma kebetulan saja.

Aku sih, awalnya nggak ngeh dengan hubungan ini. Aku menganggapnya wajar-wajar saja. Ya, aku sebagai temannya tak apalah hanya sekedar menemani dia yang butuh bantuanku. Kan hanya teman. Bukan siapa-siapa?

Tapi, hal ini berlanjut hingga berulang-ulang. Sehingga pandangan lain dari teman-teman pun melihatnya seperti gimana, gitu. Sampai-sampai kabar burung yang tidak mengenakan pun berhembus.

“Eh, Deni. Kamu sama Sita sudah jadian ya?” Tanya Eka sebelum mata kuliah di pertama di mulai.

Mendengar pernyataan yang dilontarkan Eka teman sekelasku. Aku agak shock sekaligus tercengang. Kok, bisa sih teman-teman ngomong seperti itu batinku dalam hati.

0
Liked it
Leave a Comment
comments powered by Disqus

Hi there!

Hello! Welcome to Authspot, the spot for creative writing.
Read some stories and poems, and be sure to subscribe to our feed!

Find the Spot

Loading